Wednesday, March 2, 2011

PENELITIAN SURVEI

A. Definisi Rancangan Survei

Dalam rancangan survei, peneliti mendeskripsikan secara kuantitatif (angka-angka) kecenderungan-kecenderungan, perilaku-perilaku, atau opini-opini dari suatu populasi dengan meneliti sampel populasi tersebut. Dari sampel ini, peneliti melakukan generalisasi atau membuat klaim-klaim tentang populasi itu. Dalam survei, informasi dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner. Umumnya pengertian survei dibatasi pada penelitian yang datanya dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili seluruh populasi. Ini berbeda dengan sensus yang informasinya dikumpulkan dari seluruh populasi.

Dengan demikian penelitian survei adalah penelitian yang menggambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang utama,dan hasilnya dapat digeneralisasikan atau dibuat klaim-klaim untuk seluruh populasi.

Penelitian survei dapat digunakan untuk maksud:

1. Penjajagan (eksploratif)

Memberikan pernyataan yang bersifat terbuka dan masih mencari-cari atau mereka-reka banyak pertanyaan sebagai studi eksploratif dan belum bisa dideskripsikan.

2. Deskriptif

Untuk melakukan pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu. Peneliti mengembangkan konsep dan menghimpun fakta, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesa.

3. Penjelasan (eksplanatory atau confirmatory)

Dari data-data yang ada, peneliti menjelaskan hubungan kausal antara variabel-varabel melalui pengujian hipotesa.

4. Evaluasi

Sampai sejauh mana tujuan yang telah digariskan pada awal program sudah tercapai atau memepunyai tanda-tanda akan tercapai. Dalam segi formatif biasanya melihat pelaksanaan suatu program, mencari umpan balik untuk memperbaiki pelaksanaan program tersebut. Dan dari segi summatif biasanya dilaksanakan pada akhir program untuk mengetahui tujuan program sudah tercapai.

5. Prediksi

Untuk meramal kejadian tertentu di masa yang akan datang. Salah satu hasil survei yang sampelnya menyangkut prakiraan pendapat umum disebut dengan polling.

6. Penelitian operasional

Penelitian survei banyak digunakan untuk berbagai penelitian operasional (operations research). Pada penelitian operasional, pusat perhatian adalah variabel-variabel yang berkaitan dengan aspek operasional suatu program. Setelah diidentifikasi hambatan-hambatan operasional, penelitian dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut.

7. Pengembangan indikator sosial

Indikator-indikator sosial dapat dikembangkan berdasarkan survei-survei yang dilakukan secara berkala.

B. Rancangan Survei

Dalam proposal, salah satu komponen pertama dalam bagian metode penelitian adalah tujuan dasar atau alasan/rasionalisasi diadakannya penelitian survei. Mulailah membahas bagian pertama ini dengan mereview tujuan survei dan rasionalisasi atas pemilihan metode tersebut dalam penelitian yang akan ajukan. Berikut ini, beberapa hal yang bisa dibahas dalam proposal, khususnya dibagian metode penelitian untuk rancangan survei:

1. Identifikasilah tujuan penelitian survei. Tujuannya untuk menggeneralisasi populasi dari beberapa sampel sehingga dapat dibuat kesimpulan-kesimpulan/dugaan-dugaan sementara tentang karakteristik-karakteristik, perilaku-perilaku, atau sikap-sikap dari populasi tersebut (Babbie, 1990). Sajikan referensi mengenai tujuan ini dari salah satu buku/literatur yang membahas metode survei.

2. Tunjukkan mengapa survei lebih dipilih sebagai jenis prosedur pengumpulan data dalam penelitian. Untuk rasionalisasi ini, pikirkanlah keunggulan-keunggulan rancangan survei, seperti keekonomisan rancangan ini dan kecepatan dalam menyajikan data penelitian. Jangan lupa untuk membahas keuntungan-keuntungan mengidentifikasi sifat-sifat suatu populasi berdasarkan sekelompok kecil individu (sampel) (Babbie, 1990; Fowler,2002).

3. Pertegas apakah survei yang Anda tetapkan adalah survei lintas bagian (cross-sectional survey) dengan mengumpulkan data satu per satu dalam satu waktu, atau survei longitudinal (longitudinal survey) dengan mengumpulkan data secara kumulatif sepanjang waktu.

4. Rincilah strategi pengumpulan data. Fink (2002) menunjukkan empat strategi pengumpulan data, antara lain:

a. kuesioner yang disusun sendiri (self-administered questionnaires);

b. wawancara (interviews);

c. review catatan terstruktur (structured record review) untuk mengumpulkan informasi finansial, medis, atau sekolah; dan

d. observasi terstruktur (structured observation)

Pengumpulan data juga bisa dilakukan dengan menerapkan survei berbasis website atau internet dan mengolahnya secara online (Nesbary, 2000; Sue & Ritter, 2007). Seperti apapun data dikumpulkan, yang jelas, peneliti harus tetap menyajikan alasan/ rasionalisasi digunakannya prosedur pengumpulan data tersebut dengan argumentasi-argumentasi yang didasarkan pada kekuatan dan kelemahannya, biaya (cost), ketersediaan data, dan kemudahan.

C. Populasi dan Sampel

Tentukanlah karakteristik-karakteristik populasi dan prosedur sampling. Berikut ini, aspek-aspek penting populasi dan sampel yang dapat dideskripsikan dalam proposal penelitian:

1. Identifikasilah populasi dalam penelitian. Selain itu, nyatakan secara jelas besaran populasi ini; apakah besaran tersebut dapat ditentukan ataukah tidak, dan cara-cara pengidentifikasian individu-individu dalam populasi itu. Pertanyaan-pertanyaan akses juga bisa ditulis di bagian ini, dan peneliti dapat menunjukkan ketersediaan kerangka-kerangka sampling -surat atau daftar-daftar- para responden potensial dalam populasi tersebut.

2. Perjelaslah apakah prosedur sampling untuk populasi ini mengunakan satu-tahap atau multi-tahap (yang sering dikenal dengan istilah clustering). Prosedur sampling multi-tahap atau clustering sampling adalah prosedur sampling yang ideal ketika peneliti merasa tidak mungkin mengumpulkan daftar semua elemen yang membentuk populasi. Proses sampling satu-tahap merupakan prosedur sampling yang didalamnya peneliti sudah memiliki akses atas nama-nama dalam populasi dan dapat men-sampling sejumlah individu atau elemen-elemen secara langsung.

3. Jelaskanlah proses pemilihan atas individu-individu. Untuk itu direkomendasikan agar memilih sampel acak (random sample) di mana di dalamnya setiap individu dalam populasi memiliki kcmungkinan vang sama untuk dipilih (sering juga dikenal dengan istilah systematic sample atau probabilistic sample). Dengan pengacakan (randomization), sampel yang paling representif akan memungkinkan peneliti untuk melakukan generalisasi terhadap suatu populasi.

4. Pertegaslah apakah penelitiannya akan menggunakan stratifikasi (penjenjangan) populasi sebelum memilih sampel, ataukah tidak. Stratifikasi berarti bahwa karakteristik-karakteristik tertentu dari individu-individu yang dipilih (seperti, jenis kelamin, laki-laki atau perempuan) direpresentasikan dalam sampel agar sampel ini nantinya dapat merefleksikan proporsi yarrg tepat dalam populasi sesuai dengan karakteristik-karakteristiknya masing-masing.

5. Jelaskan prosedur-prosedur dalam menyeleksi sampel dari daftar-daftar yang ada. Metode yang paling umum digunakan untuk menyeleksi sampel ini adalah memilih individu-individu (sampel) dengan menggunakan tabel angka-angka secara acak (random numbers table)

6. Tunjukkan juga angka setiap individu yang di-sampling dan jelaskan prosedur-prosedur yang digunakan untuk mengalkulasi angka-angka ini dalam penelitian survey.

D. Instrumentasi

Sebagai populasi dan sampel, peneliti juga perlu menyajikan informasi detail mengenai instrumen-instrumen survei yang akan digunakan dalam penelitian yang diajukan. Pertimbangkan langkah-langkah berikut:

1. Namailah instrumen survei yang digunakan untuk mengumpulkan data. Jelaskan apakah instrumen tersebut merupakan instrumen yang dirancang khusus untuk penelitian ini, sejenis instrumen yang dimodifikasi, ataukah instrumen utuh yang pernah dirancang orang lain. Jika instrumen yang digunakan memang dirancang khusus (modified instrument), jelaskan apakah Anda sudah memiliki izin atau dasar teoretis yang kuat untuk menggunakannya. Dalam sejumlah proyek penelitian survei, peneliti sering kali merancang suatu instrumen dari beberapa komponen instrumen lain. Jika demikian, peneliti tersebut seharusnya memiliki izin atau dasar teoretis untuk menggunakan sebagian instrumen-instrumen ini. Apalagi, instrumen-instrumen yang ada saat ini sudah banyak dirancang menjadi sejenis perangkat survei online (lihat, Sue & Ritter, 2007). Salah satu perangkat survei online yang cukup terkenal adalah SurveyMonkey (SurveyMonkey.com), sebuah produk komersial yang dirilis sejak 1999. Dengan menggunakan perangkat ini, peneliti dapat membuat survei-survei pribadinya dalam waktu yang relatif cepat, hanya dengan memanfaatkan custom templates, lalu mem-posting-nya di website-website mereka, atau mengirimkannya pada para partisipan untuk diisi. setelah itu, surveyMonkey akan memberikan hasil dan laporan balik kepada peneliti dalam bentuk statistik deskriptif, atau dalam wujud informasi grafik. Hasil-hasil ini dapat diunduh ke dalam sprendsheet atau database untuk kemudian dianalisis lebih lanjut. Perangkat ini gratis jika digunakan untuk 100 respons per survei, dan tidak lebih dari 10 pertanyaan per survei. Jika peneliti menginginkan respons-respons tambahan, pertanyaan-pertanyaan yang lebih banyak, dan beberapa custom feature yang lain, surveyMonkey membebankan biaya bulanan atau tahunan kepada peneliti.

2. Ketika menggunakan instrumen yang memang sudah ada, deskripsikanlah validitas dan reliabilitas skor-skor yang diperoleh dari penggunaan instrumen tersebut sebelumnya.

Hal ini berarti mengharuskan peneliti untuk membangun validitas atas instrumen tersebut –adakah peneliti dapat menghasilkan kesimpulan-kesimpulan/dugaan-dugaan penting dan berguna dari skor-skor yang diperoleh dari instrumen ini. Tiga bentuk validitas yang harus dicari adalah:

(1). Content validity (apakah item-item yang dianalisis benar-benar sesuai konten yang terdapat dalam item-item tersebut?);

(2). Predictive validity (apakah skor-skor yang diperoleh sudah memprediksi kriteria-kriteria yang diukur? Apakah hasil-hasilnya berkorelasi dengan hasil-hasil yang lain?); (3). construct validity (apakah item-item yang dianalisis sudah sesuai dengan konstruksi-konstruksi atau konsep-konsep hipotesis?).

Construct validity juga meliputi pertanyaan dasar tentang apakah skor-skor yang dihasilkan memiliki tujuan yang berguna dan dampak-dampak yang positif ketika dipraktikkan dalam kehidupan nyata (Humbley & Zumbo,1996). Dengan mendeteksi validitas skor dalam penelitian survei, peneliti dapat mengetahui apakah instrumen yang digunakan benar-benar sudah tepat untuk penelitian surveinya.

Lebih dari itu, jelaskan pula apakah skor-skor yang dihasilkan dari penggunaan instrumen sebelumnya sudah mencerminkan adanya reliabilitas atau tidak. Untuk mengetahui hal ini, peneliti harus mencari laporan mengenai konsistensi internal (apakah respons dari setiap item sudah konsisten dengan konstruk-konstruk yang dibuat?) dan korelosi test-retest (apakah skor-skor yang dihasilkan selalu stabil meskipun instrumennya digunakan pada lain waktu?) dalam penggunaan instrumen tersebut sebelumnya. Selain itu, pastikan juga apakah ada konsistensi dalam aturan testing dan scoring-nya (apakah ada kesalahan-kesalahan yang disebabkan karena kecerobohan dalam menerapkan aturan testing atau scoring sebelumnya?) (Borg, Gall, & Gall, 1993).

3. Ketika peneliti memodifikasi suatu instrumen atau mengombinasikan beberapa instrumen, validitas dan reliabilitas tidak berlaku untuk instrumen yang baru ini. Untuk itulah, peneliti perlu membangun kembali validitas dan reliabilitas tersebut ketika dilakukan proses analisis data.

4. Tunjukkan item-item sampel dari instrumen tersebut sehingga pembaca dapat melihat item-item sebenarnya yang digunakan. Dalam lampiran proposal, lampirkan juga item-item sampel atau keseluruhan instrumen penelitian ini.

5. Tunjukkan isi-isi utama dalam instrumen tersebut, seperti Surat Pengantar (Dillman, 1978, menyajikan beberapa hal yang perlu dimasukkan dalam surat Pengantar), item-item (seperti, demografis, item-item perilaku, item-item sikap, item-item faktual), dan

instruksi penutup. Selain itu, sebutkan juga jenis skala-skala yang digunakan untuk mengukur/menganalisis item-item dalam instrumen, seperti skala-skala berkelanjutan (misalnya, benar-benar diterima hingga tidak diterima) dan skala-skala kategorial (misalnya, ya/tidak, level rangking atau signifikansi dari yang tertinggi hingga yang terendah).

6. Jelaskan rencana-rencana yang digunakan untuk melakukan uji coba survei di lapangan (pilot testing) dan sajikan pula alasan/rasionalisasi atas rencana ini. Pilot testing ini penting untuk membangun validitas konten dari suatu instrumen dan untuk memperbaiki pertanyaan-pertanyaan, format, atau skala-skala yang mungkin tidak sesuai ketika diterapkan. Sebutkan juga jumlah orang-orang yang akan menguji coba instrumen tersebut. Jangan lupa untuk menyertakan pendapat-pendapat mereka dalam instrument final yang sudah direvisi.

7. Untuk mailed survei, perjelaslah langkah-langkahnya dalam pengaturan pendekatan survei ini dan tindak lanjutnya untuk memastikan rating respons yang tinggi. Salant dan Dillman (1994) menyarankan proses pengaturan empat-tahap. Mail yang dikirim pada tahap pertama adalah surat pemberitahuan singkat kepada semua daftar sampel yang dipilih. Mail yang dikirim pada tahap kedua adalah mail survei yang sebenarnya, yang didistribusikan setidak-tidaknya satu minggu setelah surat pemberitahuan diedarkan. Mail yang dikirim pada tahap ketiga berisi tindak lanjut berupa kartu pos (atau sejenisnya) yang dikirimkan pada semua anggota sampel 4 hingga 8 hari setelah pengiriman mail sebelum-nya. Mail yang dikirimkan pada tahap keempat, yang biasanya ditujukan untuk anggota nonresponden, berisi surat pengantar pribadi lengkap dengan tanda tangan tertulis, kuesioner, dan amplop plus perangko pengembalian. Peneliti mengirimkan mail keempat ini tiga minggu setelah mail kedua dikirimkan. Jadi, total secara keseluruhan, peneliti menyelesaikan periode administrasi/pengaturan ini selama kurang lebih empat minggu (sebulan), bisa jadi dengan proyek tindak lanjutnya.

E. Analisis Data dan Interpretasi

Dalam proposal, jelaskan tahap-tahap analisis data. Disarankan untuk menggunakan tips penelitian berikut, yaitu dengan menyajikan analisis data dalam bentuk tahap-demi-tahap agar bisa memahami bagaimana suatu tahap menuntun tahap selanjutnya hingga semua prosedur analisis data dibahas secara tuntas.

Langkah 1. Sajikan informasi tentang jumlah sampel yang terlibat dan tidak terlibat dalam survei. Informasi ini bisa dirancang dalam bentuk tabel yang berisi angka-angka dan persentase-persentase yang mendeskripsikan responden dan nonresponden.

Langkah 2. Jelaskan metode-metode yang sekiranya dapat mengidentifikasi respons bias. Respons bias adalah pengaruh/efek dari tidak adanya respons terhadap survei (Fowler, 2002). Bias berarti bahwa jika nonresponden memberikan respons, maka respons ini akan memberi perubahan besar-besaran terhadap hasil survei akhir. Jelaskan prosedur-prosedur yang digunakan untuk mengecek respons bias, seperti wave analysis atau analisis responden/nonresponden. Dalam wave analysis, peneliti mengevaluasi hasil-hasil item yang terpilih dari minggu ke minggu untuk mengetahui apakah sebagian besar respons berubah (Lesile, 1972). Berpijak pada asumsi bahwa partisipan yang mengembalikan survei pada minggu terakhir hamper semuanya merupakan partisipan yang nonresponden, maka jika respons-respons tersebut terlihat mulai berubah, ada kemungkinan terdapat respons bias. Salah satu cara untuk mengecek adanya respons bias adalah dengan menghubungi beberapa nonrespondcn melalui sambungan telepon, kemudian mengidentifikasi apakah respons mereka berbeda jauh dengan hasil respons dari responden.

Langkah 3. Lakukan analisis data secara deskriptif terhadap variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian. Analisis ini harus menunjukkan rata-rata, deviasi standar, dan skor-skor untuk dua variabel ini.

Langkah 4. Jika Anda menggunakan instrumen penelitian dengan skala-skala atau berencana untuk mengembangkan sendiri instrumen tersebut (dengan mengombinasikan beberapa item dalam skala), gunakanlah prosedur statistik (analisis faktor) untuk menyelesaikan proses ini. Anda juga bisa menggunakan tes reliabilitas untuk mengidentifikasi konsistensi internal skala-skala tersebut (seperti, statistik alpha Cronbach).

Langkah 5. Gunakanlah statistik atau program statistik computer untuk menguji rumusan masalah atau hipotesis inferensial. Rumusan masalah atau hipotesis inferensial menghubungkan (relate) variabel-variabel atau membandingkan (compare) kelompok-kelompok dalam variabel agar kesimpulan-kesimpulan sementara (inferensi-inferensi) dari skala sampel hingga skala populasi dapat diketahui. sajikanlah rasionalisasi mengapa dipilih tes statistik, lalu jelaskanlah asumsi-asumsi yang berkaitan clengan statistik tersebut. Pilihan atas tes statistik harus didasarkan atas sifat rumusan masalah (apakah menghubungkan variabel-variabel atau membandingkan beberapa kelompok dalam variabel), jumlah variabel bebas dan variabel terikat, serta jumlah variabel kontrol (lihat, misalnya, Rudestam & Newton,2007). Lebih jauh, pertimbangkan apakah variabel-variabel ini akan diukur berdasarkan suatu instrumen sebagai skor berkelanjutan /continuous score (seperti, umur dari 18 hingga 36) atau sebagai skor katagoris/cotegorical score (seperti, perempuan = 1, lakilaki = 2). Selain itu, pertimbangkan pula apakah skor-skor ini akan didistribusikan secara normal (normal distribution) dalam kurva berbentuk bel (bell-shaped curve) atau tidak didistribusikan secara normal (non-normal distribution). Ada banyak cara untuk mengetahui apakah skor-skor ini didistribusikan secara normal ataukah tidak. Faktor-faktor ini, dalam kombinasinya, akan memudahkan peneliti untuk menentukan apakah tes statistik akan cocok untuk menjawab rumusan masalah atau hipotesis.

Langkah 6. Langkah terakhir dalam proses analisis data adalah menyajikan hasil survei dalam bentuk tabel atau gambar, kemudian menginterpretasikan hasil tes statistik. Interpretasi terhadap hasil berarti bahwa seorang peneliti membuat suatu kesimpulan dari rumusan masalah dan hipotesis yang sudah dianalisis.

Daftar Pustaka

Babbie, E (1990). Survey Research Methods (2nd ed.). Belmont, CA: Wadsworth

Creswell, J.W. (2009). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (3rd ed.). Thousand Oaks, California: Sage Publications

Singarimbun, M. dkk. (2008) Metode Penelitian Survai (rev. ed.). Jakarta: LP3ES

Curriculum_Development_in_Language_Teaching.pdf - 4shared.com - berbagi-pakai dokumen - unduh - Curriculum_Development_in_Language_Teaching.pdf

Download : Curriculum Development in Language Teaching, by Jack C. Richards

Monday, February 28, 2011

Ketika Jauh


Separuh jiwaku, membagi hatiku

Meneruskan generasi, membentuk peradaban
memberiku warna, mengukir di sanubari
YUAN CINTA KASIH
Semoga menjadi anak yang sholeh dan Sholeha

Macam Hipotesa dan Syarat Pemilihan


Bentuk-bentuk hipotesis penelitian sangat terkait dengan rumusan masalah penelitian. Bila dilihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah penelitian ada tiga yaitu: rumusan masalah deskriptif (variabel mandiri), komparatif (perbandingan) dan asosiatif (hubungan). Oleh karena itu, maka bentuk hipotesis penelitian juga ada tiga yaitu hipotesis deskriptif, komparatif, dan asosiatif/hubungan.

Hipotesis deskriptif, adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah deskriptif; hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap masalah komparatif, dan hipotesis asosiatif adalah merupakan jawaban sementara terhadap masalah asosiatif/hubungan. Rumusan hipotesis deskriptif, lebih didasarkan pada pengamatan pendahuluan terhadap obyek yang diteliti.

1) Hipotesis Deskriptif

Hipotesis deskriptif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri.

2) Hipotesis Komparatif

Hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.

3) Hipotesis Asosiatif

Hipotesis asosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.

Prosedur Pengembangan Hipotesa

Berikut ini, disajikan sejumlah petunjuk dalam menulis rumusan masalah dan hipotesis kuantitatif yang baik:

o Variabel-variabel dalam rumusan masalah atau hipotesis biasanya hanya digunakan dengan tiga pendekatan dasar. Pertama, peneliti membandingkan kelompok-kelompok dalam variabel bebas untuk melihat dampaknya terhadap variabel terikat. Kedua, peneliti menghubungkan satu atau beberapa variabel bebas dengan satu atau beberapa variabel terikat. Ketiga, peneliti mendeskripsikan respons-respons terhadap variabel bebas, variabel mediate, atau variabel terikat. Kebanyakan penelitian kuantitatif menggunakan salah satu atau lebih dari tiga pendekatan ini.

o Salah satu hal yang paling sering muncul dalam penelitian kuantitatif adalah pengujian terhadap suatu teori dan spesifikasi rumusan masalah atau hipotesis yang berhubungan dengan teori tersebut.

o Variabel bebas dan variabel terikat harus diukur secara terpisah. Prosedur ini sekaligus memperkuat logika sebab-akibat dalam penelitian kuantitatif.

o Untuk mengurangi "kelebihan muatan", tulislah hanya rumusan masalah atau hipotesis saja, tidak kedua-duanya, kecuali jika hipotesis tersebut dibuat berdasarkan rumusan masalah (mengenai hal ini, akan dijelaskan kemudian). Pilihlah satu pola rumusan masalah atau hipotesis berdasarkan tradisi atau rekomendasi dari pembimbing atau pihak fakultas, atau berdasarkan ada tidaknya prediksi akan hasil penelitian dari penelitian-penelitian sebelumnya.

o Jika hipotesis yang digunakan, ada dua bentuk: hipotesis nol dan hipotesis alternatif. Hipotesis nol merepresentasikan pendekatan tradisional: ia membuat suatu prediksi yang menyatakan tidak ada satu pun hubungan atau perbedaan signifikan antara kelompok-kelompok dalam variabel penelitian. Pernyataan untuk hipotesis nol bisa berupa: "Tidak ada perbedaan (atau hubungan)" antara kelompok-kelompok.

o Hipotesis kedua, yang banyak dijumpai dalam artikel-artikel jurnal, adalah hipotesis alternatif atau hipotesis direksional. Peneliti membuat suatu prediksi atas hasil yang diharapkan. Prediksi ini biasanya berasal dari literatur-literatur atau penelitian-penelitian sebelumnya yang pernah menyatakan kemungkinan hasil tersebut. Misalnya, peneliti dapat memprediksikan bahwa "Nilai Kelompok A akan lebih tinggi ketimbang Kelompok B" dalam variabel terikat atau, bahwa "Kelompok A akan lebih banyak berubah ketimbang Kelompok B" dalam outcome yang diharapkan. Contoh-contoh berikut mengilustrasikan hipotesis direksional ini karena outcome yang diharapkan (seperti, lebih tinggi, lebih banyak berubah, dan sebagainya) juga disertakan didalamnya.

o Jenis lain dari hipotesis alternative adalah hipotesis nondireksional: suatu prediksi dibuat, namun bentuk perbedaan-perbedaannya (seperti, lebih besar, lebih lemah, lebih banyak, kurang, dan sebagainya) tidak secara eksak dirinci karena si peneliti tidak mengetahui apa yang diprediksikan dari literatur-literatur sebelumnya. Untuk itu, peneliti yang menggunakan hipotesis ini kemungkinan akan menulis: "Ada perbedaan" antara dua kelompok. Berikut ini, salah satu contoh yang menggabungkan dua jenis hipotesis tersebut (direksional dan nondireksional).

o Jika penelitian anda menggunakan variabel-variabel demografis sebagai prediktor-prediktornya, sebaiknya gunakanlah variabel-variabel nondemografis (seperti, sikap atau perilaku) sebagai variabel bebas dan terikatnya. Bahkan, variabel-variabel demografis (seperti, umur, tingkat pemasukan, level pendidikan, dan sebagainya) bisa saja Anda gunakan sebagai variabel-variabel intervening (atau mediate atas moderate) sebagai ganti dari variabel-variabel bebas.

o Gunakanlah pola urutan kata-kata yang konsisten dalam menulis rumusan masalah atau hipotesis penelitian agar pembaca mudah mengidentifikasi variabel-variabel utama. Hal ini mengharuskan peneliti untuk mengulang frasa-frasa kunci dan memosisikan variabel bebas di bagian pertama (bagian kiri) dan variabel terikat di bagian kedua (sebelah kanan). Susunan kata-kata dengan menyatakan variabel bebas terlebih dahulu, lalu variabel terikat.

o Karakteristik Hipotesis yang Baik:

1. Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. (Pada umumnya hipotesis deskriptif tidak dirumuskan)

2. Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.

3. Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.

Hipotesa Penelitian

Dalam penelitian kuantitatif, peneliti menyajikan rumusan masalah dan hipotesis penelitian, terkadang sasaran penelitian juga. Rumusan masalah ini biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan antara variabel-variabel yang akan dianalisis oleh peneliti. Rumusan masalah pada umumnya digunakan dalam penelitian ilmu sosial dan lebih khusus dalam penelitian survei. Di sisi lain, hipotesis kuantitatif merupakan prediksi-prediksi yang dibuat peneliti tentang hubungan antar variabel yang ia harapkan. Hipotesis ini biasanya berupa perkiraan numerik atas populasi yang dinilai berdasarkan data sampel penelitian. Menguji hipotesis berarti menerapkan prosedur-prosedur statistik di mana di dalamnya peneliti mendeskripsikan dugaan-dugaannya terhadap populasi tertentu berdasarkan sampel penelitian. Hipotesis sering kali digunakan dalam penelitian eksperimen yang di dalamnya peneliti membandingkan kelompok-kelompok (groups). Para pembimbing biasanya merekomendasikan penggunaan hipotesis ini hanya untuk penelitian-penelitian formal, seperti disertasi atau tesis, guna memperjelas ke mana penelitian-penelitian tersebut diarahkan.

Selain rumusan masalah dan hipotesis, ada pula sasaran kuantitatif. Sasaran ini mengindikasikan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai. Sasaran kuantitatif banyak dijumpai dalam proposal-proposal permohonan dana, tetapi jarang digunakan dalam penelitian-penelitian ilmu sosial dan kesehatan dewasa ini. Untuk itulah, fokus kita hanya pada rumusan masalah dan hipotesis penelitian. Berikut ini adalah contoh rumusan masalah kuantitatif:

Apakah. . . .. (nama teori) dapat menjelaskan hubungan antara . . . .. (variabel bebas) dan.. ... (variabel terikat), yang dipengaruhi pula oleh..... (variabel control)?

Sementara untuk contoh hipotesis kuantitatif dapat berupa seperti ini (hipotesis nol):

Tidak ada perbedaan signifikan antara.. ... (kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalam variabel bebas) terhadap . . . .. (variabel terikat).

Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian harus merumuskan hipotesis. penelitian yang bersifat ekploratif dan deskriptif sering tidak perlu merumuskan hipolesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik dengan data.

Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kualitatlf, tidak dirumuskan hipotesis, tetapi justru diharapkan dapat ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis, tersebut akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam hal ini perlu dibedakan pengertian hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Pengertian hipotesis peneiitian seperti telah dikemukakan di atas. Selanjutnya hipotesis statistik itu ada, bila penelitian bekerja dengan sampel. Jika penelitian tidak menggunakan sampel maka tidak ada hipotesis statistik.

Dalam suatu penelitian, dapat terjadi ada hipotesis penelitian, tetapi tidak ada hipotesis statistik. Penelitian yang dilakukan pada seluruh populasi mungkin akan terdapat hipotesis penelitian tetapi tidak akan ada hipotesis statistik. Ingat bahwa hipotesis itu berupa jawaban sementara terhadap rumusan masalah dan hipotesis yang akan diuji ini dinamakan hipotesis kerja. Sebagai lawannya adalah Hipotesis nol (nihil). Hipotesis kerja disusun berdasarkan atas teori yang dipandang handal, sedangkan hipotesis nol dirumuskan karena teori yang digunakan masih diragukan kehandalannya.

Thursday, September 18, 2008

Manejemen SMAN 1 MUARA HARUS




KERANGKA PEMIKIRAN

POLA KEPEMIMPINAN KEPALA

PADA SMA NEGERI 1 MUARA HARUS

Di susun Oleh : Drs. ABDUL BASID BASERI

I. LANDASAN PEMIKIRAN

  1. Tantangan Pendidikan di masa depan tidaklah semakin ringan karena kemajuan teknologi dan informasi semakin berkemabng dan kompleks, maka peningkatan mutu merupakan salah satu prioritas utama yang harus dilakukan di sekolah.
  2. Kita harus berani membiasakan diri untuk selalu berpikir prioritas dan rasional dengan didasari oleh ilmu pengetahuan, jaringan kerja dan moral yang tinggi untuk kemajuan bersama
  3. Pembaharuan dan perubahan merupkan suatu rposes yang berlangsung secara terus menerus, seiring dengan berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi serta aspirasi yang berkembang di kalangan komponen sekolah.
  4. Terobosan-terobosasn baru yang belum pernah dilakukan oleh pimpinan sekolah yang terdahulu perlu menjadi pemikiran utama dalam menjalankan kepemimpinan Kepala Sekolah
  5. Perlu juga dikembangkan pemikiran-pemikiran dan aktifitas kerja yang mengarah kepada “team work for all successful”. Denngan kata lain bahwa Peningkatan Mutu di sekolah tidak hanya merupakan tanggungjawab Kepala Sekolah melainkan tanggung jawab bersama seluruh komponen sekolah untuk mencapai Keberhasilan Bersama.

II. ALTERNATIF MODEL KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

Berdasarkan pola pikir diatas, maka perlu dicari model Kepemimpinan Kepala Sekolah yang sesuai dengan kondisi nyata, serta melihat berbagai peluang, kelebihan dan kelemahan yang ada di sekolah saat ini. Kemudian mengkaji berbagai teori pola-pola kepemimpinan yang berkembang dewasa ini, maka di SMA Negeri 1 Muara Harus ini yang paling cocok diterapkan adalah Pola Kepemimpinan yang sering di sebut oleh para ahli Pendidikan dengan “MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU (MPM)” atau disebut juga dengan “MANAJEMEN MUTU TERPADU”.

A. Pengertian

Manajemen Peningkatan Mutu (MPM) adalah sekumpulan prinsip dan teknik kepemimpinan yang menekankan bahwa peningkatan mutu harus bertumpu pada sekolah sendiri, kepemimpinan, ketersediaan data kuantitatif dan kualitatif, dan pepberdayaan semua komponen sekolah untuk secara terus menerus meningkatkan kapasitas dan kemampuan organisasi sekolah guna memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat.

B. Prinsip Pelaksanaan MPM

1. Dilaksanakan pda Level sekolah

2. Hanya dapat dilaksanakan jika kepemimpinan Kepala Sekolah baik dan dapat diterima oleh semua komponen sekolah

3. Didasarkan pada data kualitatif dan kuantitatif

4. Dilakssanakan secara terus menerus/berkelanjutan

5. Memberdayakan semua warga sekolah yang meliputi ;

- wakil kepala sekolah

- guru

- staf tata usaha

- orang tua siswa

- komite sekolah

- OSIS

6. MPM harus bertujuan bahwa sekolah dapat memberikan kepuasan paada siswa, orang tua, dan masyarakat

C. Kepemimpinan Dalam MPM

Kepemimpinan yang diterapkan dalam MPM adalah kepemimpinan yang Mandiri dengan kekhasannya ;

1. Lebih banyak mengrahkan daripada mendorong dan memerintah

2. Bersandar pada kerja sama daripada Kekuasaan

3. Menanamkan rasa Kepercayaan

4. Menunjukkan bagaimana cara melakukan

5. Mengembangkan suasana antusias

6. Senantiasa memperbaiki Kesalahan

D. Upaya Yang Harus Dilakukan

1. Mengendalikan proses baik kurikuler maupun administratif

2. Melibatkan proses diagnosa dan proses tindakan

3. Memerlukan partisipasi semua warga sekolah

E. Langkah-langkah Melaksanakan MPM ;

1. Mengevaluasi Sekolah sendiri

2. Menjabarkan aktifitas sekolah yang ada di sekolah

3. Menentukan indikator aktifitas tersebut

4. Menentukan sasaran dan target yang akan dicapai

5, Merumuskan cara agar skor indikator sekolah dapat meningkat

6. Menentukan program kerja untuk meningkatkan mutu sekolah

7. Secara priodik melakukan evaluasi :

a. Kegiatan Belajar Mengajar

b. Kepemimpinan dan kultur sekolah yang meliputi ;

Kepemimpinan Umum, kepemimpinan untuk melakukan

perubahan, kepemimpinan belajar, konteks budaya, rasa

memiliki dan budaya perbaikan.

c. Manajemen dan Pengembangan sekolah (manajemen

perbaikan, tujuan sekolah, prioritas dan perencanaan)

F. Tujuan Pelaksanaan MPM adalah ;

1. Suasana penuh ketidakpercayaan kearah penuh saling pengeretian

dan keterbukaan.

2. Suasana Kerja individual menjadi team work

3. Organisasi Tertutup menjadi Terbuka dan Dinamis

4. Manajemen Autokratis mengarah Leader dan Pembimbingan

5. Kekuasaan pada Pimpinan menjadi Demokratis

6. Keputusan berdasarkan Filling menjadi Analisis fakta riil

7. Keterlibatan semua pihak akan meningkat

8. Terdapat kerangka kerja yang sistematis dan dapat dijadikan acuan

dalam peningkatan mutu pendidikan.

    1. Hasil Yang Diharapkan

Apabila MPM ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar, maka sekolah akan dapat berperan dan berfungsi sebagai :

1. School Review

Yakni proses yang yang melibatkan seluruh komponen sekolah

dapat bekerja sama dengan pihak-pihak yang relevan misalnya

orang tua, tenaga profesional untuk mengevaluasi efektifitas

kebijakan, program sekolah, mutu lulusan dan lain sebagainya.

Selain itu sekolah juga dapat melihat ;

a. apa yang akan dicapai sekolah

b. bagaimana pencapaian hasil belajar

c. faktor-faktor apa yang menghambat

d. faktor-faktor apa yang dapat meningkatkan hasil belajar

2. School Benchmarking

Yakni sekolah mempunyai standar baik dalam proses maupun hasil yang akan dicapai dalam suatu priode tertentu

3. Quality Assurance

Yaitu kemampuan sekolah untuk memberikan jaminan bahwa proses yang berlangsung telah dilaksanakan sesuai denngan standar yang ditentukan. Hal ini dapat berjalan denngan baik apabila sekolah ;

a. quality assurance menekan pada kualitas hasil belajar siswa

b. Monitoring hasil kerja siswa secara terus menerus

c. Informasi data dari sekolah dikumpulklan dan dianalisis untuk perbaikan

d. Warga sekolah dan orang tua siswa mempunyai komitmen bersama untuk mengevaluasi kondisi sekolah dan memperbaikinya

e. Pemantauan penilaian dan pelaporan hasil kerja siswa secara berkesinambungan

f. Program-program pokok sekolah dikomunikasikan ke fihak-fihak yang berkepentingan

4. Quality Control

Sekolah akan mempunyai sistem untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan kualoitas out put yang tidak sesuai dengan standar yang sudah ditentukan

II. HAL-HAL YANG PERLU DIBUDAYAKAN DALAM KULTUR

SEKOLAH

Aspek Pokok yang berkaitan dengan Mutu Sekolah adalah :

1. Proses Belajar Mengajar

2. Kepemimpinan dan Manajemen

3. Kultur Sekolah

Kultur Sekolah adalah nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah dan diakui bersama oleh warga sekolah.

A. Yang Harus ada pada Kultur Sekolah adalah ;

1, Rangsangan untuk berprestasi

2. Penghargaan terhadap Prestasi

3. Komunikasi Sekolah yang tertib

4. Pemahaman terhadap Tujuan Sekolah

5. Ideologi Sekolah yang Kuat

6. Partisipasi orang tua

7. Kepemimpinan Kepala Sekolah

8. Hubungan Akrab diantara sesama warga sekolah

B. Kultur Sekolah akan baik jika :

1. Kepala Sekolah Berperan sebagai Model

2. Manpu membangun Team Work yang Handal

3. Belajar dari Staf, Guru dan Siswa

4. Memahami Kebiasaan yang baik untuk diteruskan dan dikembangkan

C. Peran Kepala Sekolah dalam Pembentukan Kultur Sekolah

1. Kepala Sekolah harus Memahami Kultur Sekolah yang ada

2. Perubahan Kultur Sekolah yang lebih sehat harus segera di mulai

3. Kepala Sekolah harus Mengembangkan Kepemimpinan berdasarkan

dialog, saling perhatian dan pengertian.

4. Memberikan Kesempatan kepada Staf bahkan siswa untuk mengusulkan

kultur sekolah yang dikehendaki.

D. Memaksimalkan Peran Orang tua/Wali Siswa :

1. Kegiatan Keluarga yang rutin disertai tanggung jawab masing-masing

2. Prioritas ditekankan pada Pekerjaan Sekolah

3. Dorongan untuk melaksanakan tugas sekolah

4. Tingkatkan Interaksi Verbal

5. Orang tua harus memahami kegiatan anak di sekolah

Untuk keperluan tersebut orang tua siswa harus diperlakukan sebagai patner sekolah yang meliputi ;

1. Dukungan terhadap Upaya Bersama

2. Mendukung terwujudnya lingkungan keluarga yang kondusif untuk belajar

3. Dukungan Guru

Demikian Kerangka Pola Kepemimpinan yang akan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Muara Harus tercinta ini pada masa-masa mendatang. Semoga Allah SWT memberikan Kekuatan Lahir dan Bathin kepada kita semua untuk dapat melaksanakan rencana ini, sehingga kemajuan sekolah ini ke depan dapat kita rasakan bersama. Amien

Muara Harus, Pertengahan September 2009

Kepala SMA Negeri 1 Muara Harus

Drs. ABDUL BASID BASERI

NIP. 19640410.199103.1.011

sepeda santai



Pada tanggal 16 Agustus 2008, SMAN 1 Muara Harus mengadakan sepeda santai untuk memperingati HUT RI ke-63. Acara meriah ini diikuti oleh 600 peserta dari sekolah - sekolah yang ada di Kecamatan Muara Harus. Diakhir kegiatan peserta mendapatkan hadiah-hadiah menarik (doorprize) yang berasal dari sponsor yaitu Tanjung Cycling Club, Pro XL, Camat Muara Harus dan RR+M Tanjung. Semoga acara ini bisa terselenggara tiap tahun.

Daftar Isi